Tadi pagi terjadi keributan. Tidak seperti keributan di depan istana merdeka, keributan ini relatif cukup kecil juga cukup menggemparkan. Apa aku harus menceritakan dengan detail kejadiannya? Ah, aku rasa tidak. Inti, keributan ini terjadi di satu ruang yang berisikan puluhan komputer, dan terjadi antara beberapa belas orang dengan beberapa anggota suatu institusi/organisasi. Kalau di tanya, sebagai apa di tempat itu, aku akan bingung menjawabnya. Disatu sisi, aku adalah teman dari beberapa belas orang itu tapi di sisi lain aku juga menjadi seperti beberapa anggota disana. Jujur, aku takut. Saat kejadian itu, aku hanya bisa diam, diam, dan diam. Ketika keributan mulai memuncak, detak jantungku semakin cepat berirama dan mulai tak beraturan. Tanganku gementar dan terasa membeku. Aku benci keributan. Aku bingung. Ketika aku harusnya membela teman-temanku, hati kecilku menahan karena aku juga merasakan bagaimana menjadi anggota yang dilawan teman-temanku. Akhirnya aku tetap diam.
Pagi itu telah berakhir. Teman-temanku tidak ada yang mempermasalahkan tentang diamku. Namun, aku benar-benar merasa bersalah. Tapi aku tidak tahu harus merasa bersalah ke siapa. Sejujurnya, aku tidak setuju dengan cara teman-temanku membuat keributan. Tapi, aku juga tidak setuju dengan cara anggota itu berbicara, tanpa senyum tanpa ramah tamah. Tapi aku juga tahu bagaimana rasanya di posisi kedua belah pihak. Aku berharap hal ini tidak akan terjadi lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar