Waktu SMA, ada seorang guru yang menurut saya cukup bijaksana dalam menghadapi murid-muridnya, namanya Pak Hari. Mungkin Pak Hari terlalu baik untuk setiap orang, karena terkadang mereka bersikap seenaknya dengan Pak Hari. Walaupun begitu, Pak Hari juga bisa tegas. Suatu hari, (mungkin) Pak Hari sebagai wali kelas sudah terlalu kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh beberapa anak. Akhirnya Pak Hari berkata, "kalau kekesalan ditunjukkan dengan 'gondok', mungkin sudah banyak 'gondok' disini." Sambil menunjuk lehernya. Sentak satu kelas diam. Entah diam karena mengerti maksud Pak Hari, atau karena takut karena suara Pak Hari yang meninggi. Saya pribadi, pada saat itu saya diam karena takut nada Pak Hari yg meninggi tapi saya tidak mengmbil inti dari yang dimaksudkan.
Sekarang, ketika berumur 21th, saya baru tersadar ketika berada diposisi Pak Hari. Yap, ini benar-benar sudah melelahkan. Jika kekesalan ditunjukkan dengan 'gondok' di leher, mungkin hari ini akan banyak jedolan di leher saya. Saya sangat tidak habis pikir dengan sikap mereka. Diam itu memang emas. Tapi bukan berarti tidak berpendapat, tidak bersuara, kapok karena usulan ditolak, dan berujung pada membicarakan di belakang layar. Tapi, jika saya semakin melampiaskan amarah saya di sana, saya tau saya hanya akan ditertawakan dan dijadikan bahan ledekan mereka saja. Mereka tidak akan mengambil pelajaran dari ini semua.
Maka, saya angkat kedua tangan saya, untuk berurusan dengan mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar