Kamu. Sudah berapa lama kamu berdiri di sana? Lima tahun? Sewindu? Satu dekade, atau lebih? Walaupun warnamu sudah diganti-ganti, aku yakin kamu sudah lama berdiri di sana. Aku harap kakimu tetap kokoh untuk bertahan.
Kemarin, aku berkunjung ke tempatmu dengan tujuan untuk menjenguk eyangku yang sakit. Di sana, aku menemukan banyak sekali kesedihan. Boleh sedikit aku ceritakan? Pertama, saat kendaraanku memasuki halamanmu dan melewati lobi. Di sana aku melihat seorang bapak duduk di kursi roda dengan mata sebelah di tutup dengan perban. Kemudian aku memasuki pintu utamamu, aku melihat seorang nenek berdiri dengan tongkat di sebelah tangan dalam keadaan kaki di perban. Sangking tebalnya perban itu, kaki nenek tersebut terlihat besar sekali. Dalam hatiku meringis kesakitan. Lalu, aku berjalan menuju lift, aku melihat beratus orang berwajah lesu, sedih, dan lelah. Tidak satupun aku temukan keceriaan di sana. Hatiku semakin tidak karuan. Begitu sampai di ruangan eyangku, hatiku semakin pilu. Aku melihat eyangku terbaring lemah dengan (maaf) bibir yang sedikit mencong. Saat aku mendekati, beliau berusaha menyapaku tapi tidak terdengar suaranya. Dalam hati aku menangis melihat semuanya itu. Ini hanya sebagian cerita dari satu hari kemarin. Bagaimana denganmu? Baru satu hari saja, aku sangat tidak kuat melihatnya. Bagaimana denganmu yang setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detiknya melihat peristiwa-peristiwa yang beberapa diantaranya lebih menyedihkan dariku.
Kamu adalah saksi dari semuanya. Saksi dari seseorang diperiksa dokternya, seseorang sedang dioperasi, bahkan kamu juga menyaksikan seseorang meninggal dunia setiap harinya, dan juga mendengar tangis yang pecah dari keluarga yang bersangkutan. Semoga kamu kuat melihat dan mendengar apa yang terjadi di tempatmu.
Teruntuk gedung berukuran tanggung yang sering disebut "Rumah Sakit"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar