Aku melihat jam di dinding kamarku. Jarum pendeknya menunjuk angka 10, dan jarum panjangnya menunjuk angka 12. Pukul 10 malam. Hari ini, di penghujung hari, aku merasa lelah sekali. Setelah seharian berperang dengan terik dan kemacetan di jalanku. Terlebih tumpukan emosi yang tertahan makin meninggi karena satu dan lain hal. Sungguh aku merasa sangat lelah.
Sambil memandang langit kamarku, aku mencoba mengevaluasi hari-hariku yang lalu. Mencoba mengingat apa saja yg membuatku kelelahan namun sulit untuk terpejam di malam hari.
Senin. Awal masuk kelas, riak emosiku masih biasa, datar tanpa ombak. Tiba-tiba ada yang mengepak-kepakkan riak itu hingga bergelombang cukup tinggi. Bertingkah sesukanya, aku tak suka itu. Aku kesal melihatnya. Hingga aku kehilangan kata-kata untuk menggambarkan kekesalan itu. Satu tumpukan emosi terbuat tanpa bisa dikeluarkan.
Selasa. Sekitar pukul setengah delapan pagi, ada yang menguji kesabaranku. Mencoba mencari-cari kesalahanku. Sayang sekali, aku gagal di ujian itu. Kesabaranku lepas, tapi hanya bisa terendap, tertahan, dan akhirnya tertumpuk di atas emosi hari senin.
Rabu. Hariku berjalan sempurna. Mulus. Menyenangkan. Namun di akhir, aku di buat marah oleh diriku sendiri. Marah yang menyebabkan kekecawaan yang besar, dan ikut-ikut menumpuk.
Kamis. Tanggal merah karena merupakan hari buruh. Aku mengerjakan tugas, tapi lagi lagi darahku naik hingga ke ujung kepala. Aku ledakan sedikit, namun sebagian besar aku tumpuk bersama dengan yang lainnya.
Jumat. Kuliah seperti biasa. Tertawa seperti biasa, tapi ketika pulang terjadi keributan yang sepele. Awalnya tidak ingin marah, menjadi terpancing. Pada akhirnya? Tetap tidak bisa dikeluarkan dan kembali tertumpuk.
Hari ini. Sabtu. Kelelahan memuncak. Darah di kepala di didihkan oleh senyuman matahari. Dan di text message ada yang mencari masalah, dengan omongannya yang tidak dipikirkan dulu. Aku heran, tidak punyakah dia hati? Entahlah. Tapi emosiku kembali menumpuk dan sudah sangat tinggi. Jika aku sebuah balon, mungkin sekarang aku sudah meledak dan menjadi berkeping-keping karena sesak terlalu banyak gas yang kusebut emosi.
Sekali lagi, aku lelah. Aku ingin tidur, tapi mataku tertahan oleh tumpukan emosi dan sebentar lagi akan meledak menjadi sebuah tangisan.
Terima kasih. Terima kasih kepada orang-orang yang tidak punya hati, tidak punya pikiran, dan selalu berbuat seenak kalian. Terima kasih membuatku selalu diam menahan emosi. Terima kasih :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar