Pertanyaan pertama yang aku lontarkan saat Bimo menyatakan cintanya. Bagaimana tidak? Selama ini, dia tidak pantas aku sebut sedang "pedekate" denganku. Karena dia hanya bisa menganggu, mengganggu, dan menggangguku. Aku selalu dibuat kesal olehnya.
"Pernahkah kamu merasa gelisah ketika tidak bertemu dengan seseorang?" Tanyanya sambil memandangku dalam.
"Pernahkah kamu merasa duniamu gelap walaupun terdapat matahari dan lampu dimana-mana? Pernahkah kamu terus menerus menanti seseorang padahal menurut orang yang lain orang itu tidak penting?" Bimo terus bertanya. Mendiamkan gumamanku walau dalam hati.
"Aku pernah!" Teriakku dalam hati.
Meskipun Bimo selalu menggangguku, ia selalu ada dalam keadaan apapun. Ia selalu tersenyum menggangguku. Ia selalu menerangi hari-hariku. Aku ingat saat ia sedang sakit, aku merasa hilang. Walaupun bibirku mengucap senang, hatiku terasa sangat gelisah. Dan tanpa aku sadari, hatiku berdoa untuk kesembuhannya.
"Aku juga pernah. Saat aku tidak melihatmu dalam satu hari. Bagaimana denganmu?" Tanya Bimo dengan lembut. Aku mendangak melihat wajahnya.
"Maukah kau menjadi teman hidupku?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar