Sudah 16 hari berlalu, dinding. Apakah kau tidak ingin bertemu denganku? Ah, benar! Kau hanya sebuah dinding besar yang setiap hari hanya berdiri kokoh dan tidak bisa bergerak. Kau selalu terasa dingin saat musim hujan, dan terasa hangat saat matahari bersinar terang. Tapi walaupun kau tidak merespons, aku tetap memilih kamu di banding dia yang sikapnya sama sepertimu namun tidak bisa berbuat apa-apa walaupun dia bernafas.
16 hari yang lalu, aku hanya bisa tersenyum dan tertawa di depanmu, ding. Tapi tahukah kamu ketika aku berbaring di kamar sambil memeluk guling, mataku mengeluarkan setitik air? Ah pasti tidak. Kau selalu terasa dingin di suasana beku seperti ini. Bahkan menyadari bahwa aku berpura-pura saja tidak. Aku tahu, ding ini bukan salahmu. Ini semua salahku karena sudah terlalu muluk berharap padahal sudah tahu kalau tidak akan tercapai.
Ding, walaupun aku sudah tersakiti oleh perasaanku, aku tetap berterima kasih atas segala keceriaan yang engkau bagi. Aku senang bisa melihatmu tertawa. Aku bisa merasakan kehangatan ketika kau dan aku bercengkrama, mungkin saat itu matahari sedang bersinar.
Oia, aku ada sebuah pengakuan ding. Sejujurnya surat ini aku ingin jadikan "surat kaleng" agar bisa diberikan langsung ke orangnya. Tapi aku berubah pikiran mengingat sikapmu yang tidak menentu. Lebih baik surat ini untukmu kan? Karena tak ada bedanya kamu dan dia, ding.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar